Mekatronika SMK Negeri 3 Sekayu

Jl. Baru Belakang Terminal Randik, Kota Sekayu, Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Indonesia

MARI MENULIS

Setajam-tajamnya ingatan masih lebih baik tulisan yang pudar sekalipun

JASA PEMBUATAN MIKROKONTROLLER

Melayani berbagai keperluan Mikrokontroller......

JASA PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF

Cocok buat Anda Mahasiswa untuk Tugas Akhir atau Guru yang ingin tampil beda saat mengajar

ANEKA JAM DIGITAL

Menyediakan Jam Digital BErbagai Ukuran Sesuai Pesanan .....

Showing posts with label mekatronika. Show all posts
Showing posts with label mekatronika. Show all posts

Friday, 11 January 2013

DIODA

Dioda merupaka komponen elektronika aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor. Bahan semikonduktor bersifat sebagai isolator pada suhu sekitar 0°C dan pada suhu kamar (±27°C) bersifat sebagai konduktor. Bahan semikonduktor yang digunakan pada dioda umumnya terbuat dari bahan silicon dan germanium.
Dioda adalah suatu komponen elektronika yang dapat melewatkan arus pada satu arah saja. Dioda yang lazim menggunakan sambungan semikonduktor tipe P dan semikonduktor tipe N. Secara skematis dioda sambungan P-N dilakukan seperti pada gambar dibawah.
Gambar ilustrasi di atas   menunjukkan sambungan P-N memiliki lapisan deplesi (depletion layer), yaitu lapisan yang memiliki keseimbangan antara hole dan elektron atau juga disebut dengan daerah pengosongan. Seperti yang sudah diketahui, pada sisi P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima elektron, sedangkan di sisi N banyak terdapat elektron-elektron yang siap bebas. Lalu bila dioda diberi bias positif, yaitu memberi tegangan potensial sisi P lebih besar dari sisi N (bias maju/forward bias), maka elektron dari sisi N dengan serta merta akan tergerak untuk mengisi hole pada sisi P. Tentu kalau elektron mengisi hole disisi P, maka akan terbentuk hole pada sisi N karena ditinggal elektron. Hal ini disebut aliran hole dari P menuju N, kalau menggunakan terminology arus listrik, maka dikatakan terjadi aliran listrk dari sisi P ke sisi N.
Bias Maju (Forward Bias)

Bias Mundur (Reverse Bias)

Sebaliknya apakah yang akan terjadi apabila polaritas sumber tegangan dibalik yaitu dengan memberikan bias negatif (reverse bias). Dalam hal ini, sisi N mendapat polaritas lebih besar dari pada sisi P.
Tentu jawabannya adalah tidak akan terjadi perpindahan elektron dari N ke P atau aliran hole dari P ke N. kerana baik hole atau elektron masing-masing tertarik ke arah kutup berlawanan.  Bahkan lapisan deplesi (lapisan pengosongan) semakin besar dan menghalangi terjadinya aliran hole dari P ke N (aliran arus).
Demikianlah prinsip kerja dioda yang hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja yaitu dari P (anoda) ke N (katoda). Dengan tegangan bias maju yang kecil saja dioda sudah menjadi konduktor. Tidak serta merta di atas 0 volt, tetapi memang tegangan beberapa volt baru bisa terjadi konduksi. Ini disebabkan karena adanya dinding lapisan deplesi. Untuk dioda dari bahan silicon tegangan konduksi adalah di atas 0,7 Volt, sedangkan untuk dioda dari bahan germanium tegangan konduksinya adalah di atas 0,3 Volt.
Sebaliknya untuk bias negative dioda tidak dapat mengalirkan arus, namun memang ada batasnya sampai beberapa puluh bahkan ratusan Volt. Peristiwa tersbeut disebut breakdown, dimana dioda tidak dapat lagi menahan aliran elektron yang terbentuk di lapisan deplesi. Tegangan yang mampu melewati rangkaian reverse bias dioda disebut dengan tegangan breakdown.
Dioda dinyatakan dalam ukuran menurut kemampuan kuat arus yang mampu dialirkan. Semakin besar ukuran fisik dioda, semakin besar kuat arus yang mampu dialirkan. Ukuran arus tersebut merupakan nilai maksimal yang tidak boleh dilampaui, apabila dilampaui maka dioda akan mengalami kerusakan. Khusus bagi dioda dengan kempuan besar biasanya disertai dengan plat pendingin.
Jenis – Jenis Dioda :
1.    Dioda Penyearah (rectifier)
Ø  Berfungsi untuk menyearahkan tegangan, dari tegangan AC ke tegangan DC.
Ø  Terbuat dari bahan silicon.
Ø  Banyak digunakan pada rangkaian catu daya (adaptor).
Ø  Penentuan kaki anoda dan katoda dapat dilakukan dengan melihat garis / gelang pada body dioda, kaki yang dekat dengan gelang adalah kaki katoda.
Ø  Apabila garis sudah hilang, penentuan kaki dapat dilakukan dengan menggunakan multimeter. Atur multimeter analog pada fungsi Ohmmeter, hubungkan kedua probe ke kaki dioda. Tukar probe ke keki sisi lain apabila jarum belum menyimpang. Apabila jarum multimeter sudah menyimpang maka kaki yang terhubung dengan probe hitam adalah kaki anoda sedangkan kaki yang terhubung dengan probe merah adalah kaki katoda.
Ø  Perhatikan gambar di bawah, gember tersebut menunjukkan pengujian dioda yang masih normal. Dioda dinyatakan rusak apabila pada gambar A dan B jarum multimeter tetap menyimpang.
2.    Dioda Jembatan (Bridge)
Ø  Digunakan untuk rangkaian penyearah gelombang penuh pada catu daya (adaptor)
Ø  Memiliki empat kaki, 2 kaki input untuk disambungkan ke sumber tegangan AC, 2 kaki output DC ( + / - )sebagai hasil penyearahan. 
Ø  Dapat dibentuk dari 4 buah dioda penyearah yang dirangkai seperti pada gambar.
Ø  Untuk dioda brigde dengan kemampuan daya yang besar disertai plat / dudukan pendingin. 
3.    Dioda Zener
Dioda Zener dibuat untuk bekerja pada daerah breakdownnya. Apabila sebuah dioda Zener diberikan bias mundur dengan tegangan kecil, dioda ini akan bereaksi seperti dioda biasa yaitu tidak menghantarkan arus listrik. Namun apabila diberi bias mundur dengan tegangan melebihi batas tegangan Zenernya maka dioda akan menghantarkan arus listrik dari Katoda ke Anoda.
Tegangan Zener dari sebuah ditetapkan pada saat dioda tersebut dibuat. Tegangan ini biasanya berada dalam kisaran 2,7 V hingga 200 V, dengan toleransi 5 %. Nilai tegangan Zener tertulis pada body dioda Zener. Kemampuan daya yang dimiliki dioda Zener mulai dari 1/4 Watt sampai 50 Watt. Semakin besar ukuran fisik dioda zener semakin besar pula kemampuan daya dioda tersebut. Daya dioda Zener adalah perkalian antara tegangan dan arusnya yaitu:
Pz = V z  x  Iz
Selama Pz kurang dari Pz maksimumnya dioda zener tidak akan rusak. Dioda Zener banyak digunakan sebagai penyetabil tegangan / pembatas tegangan. 
4.    Light Emiting Dioda (LED)
Bila dioda di forward bias, elektron pita konduksi melewati junction dan jatuh ke dalam hole. Pada saat elektron-elektron jatuh pada pita konduksi ke pita valensi, mereka memancarkan energi. Pada dioda LED energy ini dipancarkan sebagai cahaya, sedangkan pada dioda penyearah energy ini keluar sebagai panas. Dengan menggunakan bahan dasar seperti gallium, arsen, dan phosphor pabrik dapat membuat LED yang dapat memancarkan cahaya berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan infra merah (tidak kelihatan).
 LED biasa digunakan sebagai indicator, peralatan display, jam digital dan lain sebagainya, sedangkan LED infra merah banyak digunakan pada remote televisi, peralatan pengamanan dari tindak pencurian. Keuntungan lampu LED dibandingkan lampu pijar adalah umurnya yang lebih panjang dan tegangannya rendah. LED umumnya hanya memerlukan 2 volt untuk dapat menyala secara normal. Apabila LED mendapatkan tegangan yang lebih besar maka LED akan mengalami kerusakan, maka dalam pemasangannya LED memerlukan resisrtor yang dipasang secara seri sebagai pembatas arus dan tegangan.
Penentuan kaki LED dapat dilakukan dengan melihat kakinya, kaki yang panjang adalah kaki Anoda, sedangkan kaki Katoda adalah kaki yang pendek. Cara lain yaitu sama seperti menentukan kaki pada dioda penyearah. Atur multimeter analog pada fungsi Ohmmeter, hubungkan kedua probe ke kaki LED. Tukar probe ke keki sisi lain apabila jarum belum menyimpang. Apabila jarum multimeter sudah menyimpang atau LED menyala maka kaki yang terhubung dengan probe hitam adalah kaki anoda sedangkan kaki yang terhubung dengan probe merah adalah kaki katoda.
Pengujian LED juga mirip dengan pengujian dioda penyearah, bedanya apabila LED normal saat di uji LED juga akan menyala pada saat Anoda terhubung dengan probe hitam dan Katoda terhubung dengan probe merah.   
5.    Photo Dioda
Bila diperhatikan, simbol Photo Dioda hampir mirip dengan simbol LED, bedanya adalah simbol LED memiliki anak panah kea rah luar yang artinya memancarkan cahaya. Sedangkan pada simbol Photo Dioda memiliki arah anak panah ke dalam, ini artinya Photo Dioda meneima cahaya dari luar. Nanum pada bentuk fisik antara LED dan Photo dioda memiliki kesamaan. 
Energi Thermal menghasilkan pembawa minoritas dalam dioda, makin tinggi suhu makin besar arus dioda yang terbias reverse. Energy cahaya juga menghasilkan pembawa minoritas. Dengan menggunakan jendela kecil untuk membuka junction agar terkena sinar, pabrik dapat membuat photo dioda. Jika cahaya luar mengenai junction photo dioda yang di rangkai bias mundur (revesre bias) akan dihasilkan pasangan elektron-hole dalam lapisan pengosongan. Makin kuat cahaya makin banyak jumlah pembawa yang dihasilkan cahaya makin besar arus bias mundur (reverse). Oleh sebab itu Photo dioda dapat digunakan sebagai sensor cahaya yang baik. 
6.     Dioda Schottky
Dioda jenis ini menggunakan logam emas, perak, atau platina pada salah satu sisi junction (biasanya pada tipe-N) yang di dop ke sisi lain. Dioda semacam ini adalah piranti unipolar (tidak berpolaritas) karena electron bebas  merupakan pembawa mayoritas pada kedua sisi junction. Dioda Schottky tidak memiliki lapisan pengosongan atau penyimpanan muatan, sehingga ia dapat di switch (nyala-mati) lebiih cepat daripada dioda bipolar. Sebagai hasilnya piranti ini dapat menyerahkan tegangan diatas frequensi 300MHz, jauh diatas kemampuan dioda bipolar (dioda penyearah).
Rangkaian – Rangkaian Dioda:
1.    Rangakaian Penyearah Setengah Gelombang
Rangkaian penyearah adalah rangkaian yang mampu mengkonversikan tegangan AC menjadi tegangan DC. Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang adalah rangkaian penyearah yang hanya menghasilkan arus output dari setengah siklus arus input. Rangkaiannya terdiri dari sebuah diode penyearah saja.
Pada rangkaian dibawah, diperlihatkan kondisi pada kondisi setangah siklus positif fase memiliki tegangan lebih tinggi (+) dari netral (-) sehingga dioda mendapat bias maju (forward bias) sehingga dapat menghantarkan arus. Arus mengalir melewati dioda ke beban dan kembali menuju trafo melewati jalur 0 volt.
Sementara itu dioda tidak menghantarkan arus listrik selama setengah siklus negatif AC yaitu fase memiliki tegangan lebih rendah (-) dari netral (+), sebagaimana diperlihatkan gambar dibawah:
Bentuk gelombang arus yang melewati beban dapat dilihat pada gambar dibawah. Meskipun terlihat naik turun, tegangan tetap bernilai positif. Tegangan semacam ini setara dengan tegangan DC.
 
Dengan membandingkan grafik tegangan input AC dan tegangan output DC kita dapat mengetahui bahwa:
Ø  Tidak terdapat output selama setengah siklus negatif. Setengah dari daya input terbuang sia-sia.
Ø Amplitudo (tinggi gelombang) / tegangan output lebih kecil dibandingkan dengan amplitudo input. Hal ini disebabkan oleh timbulnya tegangan maju (tegangan konduksi) pada diode.
2.    Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh
Sesuai dengan namanya, rangkaian penyearah gelombang penuh akan menghasilkan gelombang secara penuh baik pada setengah siklus positif atau pada setengah siklus negatif. Rangkaian dibawah ini menyearahkan tegangan AC menggunakan sebuah rangkaian dioda jembatan (bridge) yang terdiri dari 4 buah dioda.
Selama setenga siklus positif, dioda D1 dan diode D2 mendapat bias maju, sehingga keduanya menghantarkan arus. Diode D3 dan diode D4 mendapatkan bias mundur, sehingga tidak menhantarkan arus. Arus mengalir melewati beban sebagaimana diperlihatkan gambar berikut ini:
Selama setengah siklus negatif, diode D1 dan diode D2 mendapat bias mundur sehingga keduanya tidak mengalirkan arus. Diode D3 dan D4 memperoleh bias maju sehingga menghantarkan arus.
 
Kesimpulan yang dapat kita peroleh adalah bahwa arus terus mengalir melewati beban, pada arah yang sama sebagaimana sebelumnya. Grafik-grafik tegangan input dan tegangan output adalah sebagai berikut:
 
Rangkaian penyearah tetap menghasilkan output selama berlangsungnya kedua siklus setengah gelombang, sehingga rangkaian ini efisien 100 %. 
Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh juga dapat dibuat menggunakan 2 buah diode saja, tetapi menggunakan transformator tipe center tap (CT). Trafo CT memiliki 2 buah fase dan sebuah terminal CT sebagai 0 atau netral. setiap fase memiliki sudut yang berbeda 180°. Perbedaan sudut fase inilah yang dimanfaatkan untuk mendapatkan hasil penyearahan gelombang penuh. Apabila diperhatikan rangkaian penyearah gelombang penuh menggunakan trafo CT sebenarnya sama dengan 2 buah rangkaian penyarah setengah gelombang.


Semoga Bermanfaat, ...
Salam Lemper..

Wednesday, 8 August 2012

CARA MEMBUAT CHARGER HP (DARURAT) DI SEPEDA MOTOR = MURAH, MUDAH !

Cuma mau berbagi cara sederhana membuat Charger HP di sepeda motor. Cocok untuk yang sehari-hari beraktifitas dengan sepeda motor atau yang hoby Touring. Sangat sederhana, dengan biaya yang cukup murah. Bermodal Charger Bekas + IC Regulator Tegangan yang harganya berkisar Rp 2 ribuan.  

MEMPERSIAPKAN BAHAN
Siapkan Charger bekas sesuai spek HP yang kita miliki + uang 2 ribu rupiah (kalo belum naik harga, he..) untuk beli IC regulator  tegangan  seri 7805 + kabel isi 2 sekitar panjang 1 meter. Charger bekas hanya diambil kabel ke HPnya & Chasingnya saja. Pastikan kabel konector HP masih dalam keadaan baik. Gunakan Multimeter untuk melakukan pengetesan kabel tesebut.
  
sumber gambar IC 7805 = http://emfatah.blogspot.com



MEMPERSIAPKAN ALAT
Alat yang diperlukan antara lain
 - Obeng, 
 - Solder, 
 - Isolasi,  
 - Timah Patri (tenol).
 - Multimeter 

EKSEKUSI
1. Buka chasing HP 
    Keluarkan mesinnya, buang pada tempatnya...
2. Merangkai
Rangkai Seperti gambar berikut
  • Kaki 1 terhubung dengan positif Batere Aki sepea motor
  • kaki 2 terhubung dengan negatif Batere Aki sepeda motor dan kabel konektor HP yang negatif, gunakan multimeter untuk memastikanya. 
  • Kaki 3 terhubung dengan kabel konektor charger HP yang positif.
   Jangan lupa di isolasi ya sambungan kebel ke kaki IC-nya, biar gak konslet...


gambar rangkaian sudah jadi...

3. Lakukan pengujian
      kalau tidak ada kesalahan rangkaian atau kerusakan komponen, maka rangkaian tersebut sudah dapat   bekerja.

4. Tutup rangkaian dengan menggunakan Chasing Charger
Kasih pendingin juga bagus, untuk mengurangi panas pada IC.

5. Pasang Pada Sepeda Motor
Tempatkan charger yang sudah dibuat sesuai dengan type motornya, umumnya di pasang di dalam bagasi lebih bagus. Kebetulan motor yang saya pake Motor Type Sport, jadi agak kesuitan memasangnya. Kalau dimotor Bebek ato Matic Saay kira lebih mudah. Intinya tergantung selera lah nempatinnya.   

TIPS TAMBAHAN
 - Ditambah Saklar, lebih bagus
 - Dikasih LED sebagai indikator juga OKE
 - Kalo bisa dikasih sekring ya, buat pengaman. 1 Ampere cukup..

PRINSIP KERJA
IC 7805 merupakan keluarga IC regulator tegangan, yaitu IC yang berfungsi sebagai penstabil tegangan dengan nilai penstabilan tertentu. Apabila tegangan masukan (input) lebih besar dari nilai penstabilan IC maka keluaran (output) akan distabilkan sesuai dengan nilai penstabilan IC tersebut. Contoh IC penstabil tegangan yang lain adalah 7806, 7809, 7812, 7815 dan lain-lain.
Dua digit terakhir (angka 05 pada kode 7805) merupakan kode nilai tegangan penstabilan IC tersebut, yaitu 5 volt. Apabila tegangan input lebih besar dari 5 volt maka keluaran tegangan akan distabilkan menjadi 5 volt. Namun apabila  tegangan input < 5 Volt maka tegangan output = tegangan input.
Batere HP rata-rata berpolaritas 3,7 volt dengan kemampuan arus yang kecil. Batere HP dapat di charge dengan tegangan tegangan sedikit lebih besar dan arus harus lebih besar. Prinsip kerja charger HP dari motor ini mirip dengan charger USB dari laptop, yaitu penge-charge-an dengan tegangan 5 volt.
Sederhana sekali kan?!

Semoga Bermanfaat,

Saturday, 4 August 2012

CARA MEMBACA KODE WARNA RESISTOR

PEMBACAAN NILAI RESISTOR
Nilai resistor dapat diketahui dengan membaca kode yang terdapat pada resistor tersebut. Kode yang digunakan yaitu:
Kode Gelang Warna
Kode warna pada resistor tetap dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu 4 gelang warna, 5 gelang warna, dan 6 gelang warna. Hal pertama dalam membaca kode warna resistor adah menentukan gelang pertama dan gelang terakhir. Gelang tarkhir merupakan gelang yang memiliki jarak yang lebih lebar terhadap gelang lain. Pembacaan kode gelang warna perhatikan tabel gelang warna pada gambar dibawah.

Contoh :
1. Berapaha nilai resistor dengan kode warna : Jingga, Jingga, hitam, Emas?
     Jawab :     1st Ring    2nd Ring    3rd Ring    4th Ring
                         Jingga      Jingga         Hitam        Emas
                            3             3                x 1         ± 5 %
    Jadi Nilai Resistor tersebut adalah = 33 Ohm ± 5 %
2. Berapaha nilai resistor dengan kode warna : Cokelat, Hitam, Merah, Perak?
     Jawab :     1st Ring    2nd Ring    3rd Ring    4th Ring
                       Cokelat       Hitam       Merah       Perak
                            1              0            x 100       ± 10 %
    Jadi Nilai Resistor tersebut adalah = 1.000 Ohm ± 10 %


Kode Alphanumeric
Kode tertulis pada badan resistor tersebut. Selain menunjukkan nilai resistansi, kode juga menunjukkan nilai kemampuan daya dan toleransi. Kemampuan daya tertulis langsung dalam satuan Watt (W), Nilai resistansi biasanya diimbuhi dengan beberapa kode huruf yang menunjukkan faktor pengali, dan Toleransi juga diberi kode huruf dengan nilai ± (….) %.
Tabel 1.    Kode Resistansi dan Kode Toleransi - Alphanumeric



Gambar 15.    Contoh Resistor dengan kode Alphanumeric


Contoh :
1. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 5W 22 R J !
       Jawab :  
         -  Kode kemampuan daya    5 W        =  5 Watt
         -  Kode resistansi                 22R        =  22 Ohm
         -  Kode toleransi                       J        =  ± 5 %
2. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 10W 1R5 K !
       Jawab :  
         -  Kode kemampuan daya     10 W    =  10 Watt
         -  Kode resistansi                  1R5      =  1,5 Ohm
         -  Kode toleransi                    K         =  ± 10 %
3. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 2W 2 K F !
       Jawab :  
         -  Kode kemampuan daya    2 W        =  2 Watt
         -  Kode resistansi                   2K        =  2.000 Ohm
         -  Kode toleransi                      F        =  ± 1 %

Semoga Bermanfaat...Salam MekatronikaSekayu

RESISTOR

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat arus listrik. Resistor juga sering disebut dengan nama tahanan atau hambatan. Sesuai dengan namanya resistor memiliki sifat resistif yaitu bersifat menghambat arus listrik. Satuan nilai resistif suatu resistor adalah Ohm atau dilambangkan dengan simbol Omega ( Ohm ). Resistor merupakan komponen yang tidak berpolaritas, artinya dalam pemasangannya tidak perlu memperhatikan polaritas (+) atau (-) nya.

Berdasar karakteristik nilainya resistor dibagi menjadi 2 tipe yaitu:

Resistor Tetap (Fixed Resistor)Yaitu resistor yang memiliki nilai tetap (tidak berubah-ubah). Nilai resistansi resistor tetap mulai dari orde mikro-Ohm sampai dengan orde mega-Ohm. Resistor tetap biasanya terbuat dari bahan karbon, namun ada juga yang terbuat dari lilitan kawat.
Gambar 1.    Simbol Resistor tetap
 
Gambar 2.    Bentuk Fisik Resistor Tetap

a.    Resistor Tetap dari bahan KarbonResistor karbon terbuat dari serbuk karbon graphit yang dicampur dengan bahan isolator (serbuk), dimana presentase dari campuran kedua behan tersebut tergantung pada besarnya resistansi yang dikehendaki. Dalam hal ini, lebih banyak kandungan karbonnya, maka lebih rendah resistansi yang dihasilkan. Bahan pembungkus resistor karbon terbuat dari plastik.
Bahan karbon biasanya digunakan pada resistor dengan daya rendah dibawah 2 Watt. Sebagian besar peralatan elektronika menggunkan resistor karbon dengan batasan daya sekitar 1 Watt, karena ukuran resistor lebih kecil dan harganya lebih murah dibandingkan dengan resistor lilitan. 
Gambar 3.    Konstruksi Resistor karbon

b.    Resistor bahan LapisanResistor lapisan adalah resistor yang elemennya terbuat dari lapisan bahan tertentu yang diselubungkan pada permukaan batang keramik atau kaca. Bahan lapisan ini bisa berupa serbuk karbon atau logam yang lain. Lapisan tersebut bisa dibentuk dengan cara penyemprotan, pengembunan, dan lain sebagainya, tergantung dari jenis bahannya. Ketebalan dari lapisan inilah yang mempengaruhi nilai resistansinya. Pada kedua ujung resistor ini diberi tutup logam dan kawat penyambung yang terbuat dari tembaga lapis timah sebagai kaki resistor.
Resistor lapisan karbon dibuat dengan nilai resistansi mulai dari 1 Ohm hingga 1MOhm, dengan batasan daya relatif kecil mulai dari 1/8 Watt hingga 2 Watt. Resistor ini mempunyai kestabilan terhadap temperatur yang lebih baik disbanding dengan resistor yang terbuat dari karbon padat.
Resistor lapisan logam mempunyai elemen yang terbuat dari kaca dan dilapisi dengan bahan penghantas logam. Karenanya, nilai resistansinya lebih akurat dibanding dengan resistor lapis karbon.
Resistor dari lapisan logam biasanya digunakan dalam sistem atau peralatan elektronika yang memerlukan kehandalan yang baik, stabilitas yang baik, dan umur yang panjang dalam keadaan digunakan.  Resistor jenis ini dibuat dengan nilai resistansi mulai dari 1 Ohm hingga 1 MOhm dengan batasan daya mulai 1/6 Watt hingga 6 Watt.

Gambar 4.    Struktur Resistor Lapisan

c.    Resistor dari Lilitan KawatResistor dari lilitan umumnya digunakan pada resistor dengan daya tinggi mulai dari 5 watt sampai ratusan watt. Secara umum, semakin besar bentuk fisik suatu resistor maka semakin besar kemampuan dayanya. Resistor lilitan bila dibandingkan dengan resistor karbon, yaitu memiliki toleransinya lebih rendah (lebih baik), mempunyai nilai resistansi yang lebih besar, memiliki kemampuan daya lebih tinggi, ukurannya juga lebih besar.
Lilitan pada resistor ini biasanya terbuat dari bahan campuran nikel dengan logam lain seperti Manganin dan Konstantan. Bahan pembungkus (isolator) resistor lilitan biasanya terbuat dari porselin, semen, phenolik, dan kertas press.
Resistor lilitan banyak digunakan untuk keperluan peralatan elektronika yang membutuhkan resistansi tinggi dan akurasi tinggi seperti pada alat ukur listrik.  
 
Gambar 5.    Struktur Resistor Lilitan

d.    Resistor Terpadu (R-Pack)R-Pack adalah suatu paket resistor yang didalamnya terdapat sejumlah resistor. Resistor jenis ini dibuat dengan maksud mengurangi jumlah elemen dalam suatu rangkaian elektronika, menurunkan kebutuhan tenaga kerja, dan meningkatkan kemampatan integrasi rangkaian.
Resistor terpadu dibuat dalam dua jenis, yaitu SIP (Single in-line Package) yaitu resistor dengan kaki 1 baris, dan DIP (Dual in-line Package) yaitu resistor dengan kaki 2 baris. Pada umumnya jenis SIP lebih sering digunakan dibanding dengan jenis DIP. Resistor jenis ini biasanya dibuat dengan nilai resistansi sampai dengan 500KOhm dengan batasan daya mulai dari 125mW hingga 200mW.
 
Gambar 6.    Resistor Terpadu (R-Pack)
  
Resistor tidak Tetap (Variable resistor)Sesuai dengan namanya resistor jenis ini memiliki nilai resistansi yang dapat berubah-ubah. Perubahan nilai resistansi suatu variable resistor tergantung dari jenisnya.
Jenis-jenis Variable Resistor:
a.    Potensiometer dan TrimpotVariable Resistor jenis ini akan mengalami perubahan nilai resistansi apabila tangkaianya diputar atau digeser. Potensiometer dan Trimpot memiliki nilai bervariasi mulai dari puluhan Ohm sampai dengan jutaan Ohm. Misalnya sebuah Potensiometer dengan nilai 100 Ohm maka nilai Potensio tersebut dapat diatur dari 0 Ohm sampai dengan maksimal 100 Ohm.
 
Gambar 7.    Simbol (kiri) dan Bentuk fisik Potensiometer & Trimpot (kanan)

Potensiometer dan Trimpot memiliki 3 kaki. Kaki bagian luar (samping) merupakan kaki dengan nilai resistansi tetap. Misalnya Potensiometer 100 Ohm, maka nilai resistansi antara kedua kakia tersebut pasti 100 Ohm. Sedangkan kaki bagian tengah (tanda panah) merupakan kaki dengan nilai yang dapat berubah-ubah.
 
Gambar 8.    Ilustrasi Prinsip Kerja Potensiometer/Trimpot

Untuk keperluan Audio-Video juga digunakan Potensiometer dengan 6 kaki yang disebut dengan Potensiometer Stereo. Prinsip kerja Potensiometer Stereo adalah dua buah Potensiometer biasa (kaki 3) yang tuas putar/gesernya dijadikan satu, dengan keta lain dua buah potensiometer yang bekerja secara paralel/bersama-sama.

b.    Light Dependent Resistor (LDR) – Resistor Peka Cahaya
Sesuai dengan namanya, LDR memiliki nilai resistansi yang dapat berubah-ubah tergantung dari cahaya yang diterima. Semakin kuat intensitas cahaya yang diterima LDR maka semakin kecil nilai resistansi LDR. LDR banyak digunakan sebagai sensor cahaya.
 
Gambar 9.    Simbol (Kiri) dan Bentuk Fisik LDR & karakteristik LDR (kanan)

c.    Termistor
Termistor adalah salah satu jenis resistor yang mempunyai koefisien temperature yang sangat tinggi. Fungsi utama komponen ini dalam suatu rangkaian elektronik adalah untuk mengubah nilai resistansi karena adanya perubahan temperature dalam rangkaian tersebut. Dengan demikian dapat difungsikan sebagai sensor suhu.
Termistor dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1)    Termistor NTC (Negative Temperature Coefficient)  Yaitu termistor yang mempunyai koefisien temperature negatif, dengan kata lain semakin rendah suhu (temperature) semakin tinggi nilai resistansi (linier). Pada umumnya, bila kita menyebut kata termistor, maka termistor tersebut adalah termistor NTC. Termistor NTC banyak digunakan untuk sensor dan regulator.
 
Gambar 10.    Simbol (kiri) dan Bentuk Fisik NTC (kanan)

2)    Termistor PTC (Positive Temperature Coefficient)Sebagaimana telah dijelaskan, termistor PCT merupakan resistor dengan koefisien temperatur positif yang sangat tinggi. Secara prinsip karateristik PCT berbanding terbalik dengan NTC, yaitu pada PCT semakin tinggi koefisien suhu maka semakin tinggi nilai resistansi (namun tidak linier). Termistor PTC, yang resistansinya berubah secara drastis dalam interval temperatur tertentu, khususnya digunakan sebagai pendeteksi harga ambang-batas (threshold detector). Namun termistor PTC berbeda dengan termistor NTC antara lain seperti berikut:
a)    Koefisien temperatur dari PTC bernilai positif hanyay dalam interval temperatur tertentu, sehingga di luar interval tersebut, koefisien temperaturnya bisa bernilai nol atau negative.
b)    Pada umumnya, harga mutlak dari koefisien temperatur dari termistor PTC jauh lebih besar dari pada termistor NTC.

Gambar 11.    Simbol (kiri) dan Bentuk Fisik PTC (kanan)

3)    Termistor CTR (Critical Temperature Resistance)Termistor CTR merupakan resistor yang mempunyai koefisien temperatur  () negative yang sangat tinggi. Penurunan resistansi yang drastis karena adanya pengaruh suhu tersebut terjadi pada transisi logam-semikonduktor dan berubah-ubah.


Gambar 12.    Kurva karakteristik PTC, NCT dan CTR

PEMBACAAN NILAI RESISTORNilai resistor dapat diketahui dengan membaca kode yang terdapat pada resistor tersebut. Kode yang digunakan yaitu:
1.    Kode AlphanumericKode tertulis pada badan resistor tersebut. Selain menunjukkan nilai resistansi, kode juga menunjukkan nilai kemampuan daya dan toleransi. Kemampuan daya tertulis langsung dalam satuan Watt (W), Nilai resistansi biasanya diimbuhi dengan beberapa kode huruf yang menunjukkan faktor pengali, dan Toleransi juga diberi kode huruf dengan nilai ± (….) %.

Tabel 1.    Kode Resistansi dan Kode Toleransi - Alphanumeric



Gambar 15.    Contoh Resistor dengan kode Alphanumeric


Contoh :
1. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 5W 22 R J !
       Jawab :   
         -  Kode kemampuan daya    5 W        =  5 Watt
         -  Kode resistansi                 22R        =  22 Ohm
         -  Kode toleransi                       J        =  ± 5 %
2. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 10W 1R5 K !
       Jawab :   
         -  Kode kemampuan daya     10 W    =  10 Watt
         -  Kode resistansi                  1R5      =  1,5 Ohm
         -  Kode toleransi                    K         =  ± 10 %
3. Jelaskan maksud kode Alphanumeric  sebuah resistor dengan kode 2W 2 K F !
       Jawab :   
         -  Kode kemampuan daya    2 W        =  2 Watt
         -  Kode resistansi                   2K        =  2.000 Ohm
         -  Kode toleransi                      F        =  ± 1 %

2.    Kode Gelang Warna
Kode warna pada resistor tetap dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu 4 gelang warna, 5 gelang warna, dan 6 gelang warna. Hal pertama dalam membaca kode warna resistor adah menentukan gelang pertama dan gelang terakhir. Gelang tarkhir merupakan gelang yang memiliki jarak yang lebih lebar terhadap gelang lain. Pembacaan kode gelang warna perhatikan tabel gelang warna pada gambar dibawah.

Contoh :
1. Berapaha nilai resistor dengan kode warna : Jingga, Jingga, hitam, Emas?
     Jawab :     1st Ring    2nd Ring    3rd Ring    4th Ring
                         Jingga      Jingga         Hitam        Emas
                            3             3                x 1         ± 5 %
    Jadi Nilai Resistor tersebut adalah = 33 Ohm ± 5 %
2. Berapaha nilai resistor dengan kode warna : Cokelat, Hitam, Merah, Perak?
     Jawab :     1st Ring    2nd Ring    3rd Ring    4th Ring
                       Cokelat       Hitam       Merah       Perak
                            1              0            x 100       ± 10 %
    Jadi Nilai Resistor tersebut adalah = 1.000 Ohm ± 10 %


Semoga Bermanfaat...
Salam MekatronikaSekayu